Kamis, 14 Februari 2008

Syair Cinta

Bila Aku Jatuh Cinta


Ya Allah

Jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin
Jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya
agar tidak melebihi cintaku pada-Mu


Ya Allah
jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar aku tidak terjatuh kedalam jurang cinta semu.


Ya Rabbana
jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya,

agar tidak berpaling dari hati-Mu.


Ya Rabbul Izzati
jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah
jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya,

agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.


Ya Allah
jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah
jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih

dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.


Ya Allah
jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas,

sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.


Ya Allah
Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,

telah berjumpa pada taat pada-Mu,

telah bersatu dalam dakwah pada-MU,

telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.

Kekalkanlah cintanya.

Tunjukilah jalan-jalannya.

Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu

dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Seorang Mujahid Islam, yang melabuhkan cinta pada Allah, Syaikh Syahid Sayyid Qutb



petualangan ke Isma'iliyah

PERJALANAN YANG MENYENANGKAN

-------------------------------------------------------------------

Dipagi yang indah, selimut hitam menyelimuti kota Zagazik, Raja siang masih terlelap, udara segar tanpa ternoda!, kami berjalan perlahan diantara gang Salam yang masih sepi dari penghuni penuh harap agar hujan tak turun.

“ Mahaththah…Mahaththah…” sayup-sayup terdengar dari kejauhan suara knek mobil memanggil.

“Yallah…yallah…” kami naik dengan wajah berseri-seri dan bahagia. Jalan-jalan man…!. Mobil melaju dengan cepat meninggalkan as-Salam. Jalan demi jalan, tikungan demi tikungan dialui dengan aman, tanpa terasa kamipun telah sampai di Mahaththah.

Tak seperti biasa kali ini Mahaththah sunyi, mungkin karna masih pagi? Orang mesirkan suka tidur ba’da Shubuh, paling-paling bangun jam sembilan atau jam sepuluhan, aktifitasnyakan jam segitu. “Mesir…mesir…?,” gumamku.

Kami terus melangkah penuh energig, bahan bakar tlah penuh, tapi saya kelebihan bahar bakar akibatnya Over, perut mules angin keluar terus, bocor kali ya tengnya…?, tapi hanya beberapa menit, kemudian hilang.

“ Luar biasa,” teriakku takjub memandangi Mahaththah yang luas, rel-rel berserakan dipenuhi Kereta-kereta, warung-warung kecil turut meramaikan, membuat Mahaththah tambah cantik dan asri.

Eh, Apaan tuh yang lagi termenung…? O, rupanya Kereta yang masih terbuai mimpi, kasihan, sepertinya capek banget, kerja siang malam membanting tulang, tak pandang panas tak pandang hujan, wajahnya pucat karna kurang istirahat. Akibatnya seluruh kulit melepuh. Kasihan…! Seluruh kakinya tampak layu tak mendayu tapi tak mengaduh. Jadi ingat ayah dan ibu nih…! Orang yang berjuang penuh semangat dan melabuhkanku di Negri penuh misteri ini, negri penuh tanda tanya.

Kami trus mengayuh langkah sambil menari-nari memainkan kaki diatas rel menuju Kereta jurusan Isma’iliyah yang berbaris menunggu penumpang disudut Mahaththah.

“Tut…tut…! Terdengar suara rebut-ribut, teriak-teriak dengan keras, membuat kami terkejut. Rupanya suara kereta yang sudah pada bangun. Walaupun masih ada satu-satu yang masih ngorok “he…he…! emangnya manusia…! pake ngorok segala!.

“Ayo cepetan, Keretanya mau berangkat”. Teriak bang Rois.

“Yang lain mana”. Sambungnya agak gusar, menghampiriku.

“Ada, dibelakang”. Jawabku padat.

Lima puluh kilo meter perjam kukayuh pedal Jazz yang kupinjam tadi, menembus barisan Kereta yang berjejer-jejer. Kubungkukkan badan sambil tengadah, biar nggak nyantol diperut Kereta yang kasar karna olah raga pagi sore.

Namun dasar sial, “gdubrak…”, kakiku kesandung rel.

“Adu…h,” rintihku memegang lutut yang beradu kayu. Tapi untung aja nggak luka. Dasar orang Indonesia banyak untungnya.

Tanpa terasa Kami semua sekarang telah berada dalam kereta Clas Ekonomi yang compang-camping, maklum…! kamikan orang miskin jadi naiknya cari yang sepadan, sama-sama miskin gitu. Eh, tapi tunggu dulu..! meskipun Keretanya compang camping, nggak kalah saing sama si Ekslusive. Ful AC, Ful Musik dan Ful ‘Isy To’miah, he…he...! Taukan Ful AC…? Ya betul..! AC alami bikin sesak. Pernah tuh… waktu aku ke Kairo naik Kereta yang beginian, pas nyampek, tau-taunya rambut beruban, muka berbedak, baju kayak diwantek, mana baju yang dikenakan hitam lagi, pas turun jadi kuning.

Tau nggak maksud Ful Music…? Salah…! Maksudnya Ful Music Ful suara Simesir yang gedek kaya gledek, teriak-teriak ditambah gendang pintu dibanting, bikin jantungan. Disitu letak kalahnya Class Ekonomi, gendangnya gendang Dangdut lagunya lagu Rock ya nggak nyambung atuh…!. Ah, jadi malu nih…!. Tapi pede man.

Kalau Isy To’miah ya itu…yang biasa dimakan orang Mesir. Mau jualan pak banyak banget bawa isynya. Ha…ha…

Kereta terus melaju melewati rel setapak, meninggalkan Zagazig menuju Isma’iliyah. Kira-kira Isma’iliyah seperti apa ya…? Baru pertama kalinya nih…! Bagus nggak sih…? Atau jangan-jangan kayak…?ah, jadi ngantuk mikirinnya.

“Zzzttt…” bunyi apa tuh kayak mesin Jet.

ha…ha…bang Deni ama bang Rois lagi ngorok, kasihan tuh Simesir nggak nyaman. Perlahan, samar-samar kulihat orang-orang disekeliling, lama-lama jadi kabur dan

“Zzzttt…” ikut ngorok.

*****

Wow…Luar biasa…! tak seperti bayanganku! ternyata Isma’iliyah negri yang apik, bangunannya rapi dan bersih, nggak kayak Zagazig sampah berserakan dimana-mana, bikin kepala puyeng. Taman hijau terhampar luas, angin berhembus menyapu dedaunan kering, pepohonan menari-nari mengalahkan goyangannya inul dan uut, liuk-liuk, bungkuk-bungkuk nggak ambruk. Burung-burung terbang oleng-oleng ditampar angin yang lagi marah. Riak-riak air menciptakan gelombang yang menderu-deru saling kejar-kejaran tuk menerjang karang pinggiran pantai.

Kuhempaskan badan yang mungil itu kesebuah tanggul pinggir jalan tak jauh dari bibir pantai sambil menerima pambagian Isy dari bang Zenal dan bang Fatkholis orang yang selau sibuk sana-sini selama jalan-jalan kami.

Kurasakan seluruh persendian pada nyeri, terlebih baut kaki, kalau tidak kukunci mungkin pada lari. Dengan kaki diselonjor, badan ditegak, mulut disuap, kuhantam isy malang tuk gelang-gelang yang terus menabuh genderang, benar-benar laper nih…!. Maklum habis olahraga. Hal yang sama juga dirasakan abang-abang dan teman-teman, apalagi yang gedek-gedek badan lebih parah lagi, kalau tidak pandai ngatur nafas mungkin udah duluan…? duluan ngabisin isy maksudnya…! Bak pesawat Supersonic terbang Isy diterjang. Apa nggak bisa keselek tuh. Kasihan tuh Isynya…!.

Tak jauh dari tepat kami duduk bang Deni datang membawa air dengan nafas tersenggal-senggal raut wajah kusut mendekat menghampiri kami yang lagi duduk-duduk.

“Zen, antum liat kamera ana nggak?.” Bang deni bertanya pada bang Zenal masih dengan nafas tersenggal-senggal sambil meletkkan air ketanah.

“Tadikan sama antum?.” Jawab bang zenal dengan nada bertanya.

“Iya, tadi sih sama ana, tapi pas beli air nggak ada, mungkin tinggal kali pikir ana, makanya ana nanya sama antum.” bang Deni menjelaskan dengan nada penuh kekhawatiran. Maklum kameranyakan kamera mahal, beli disaudi pas musim haji dua tahun yang lalu. Jadi wajarkan khawatir.

“Tapi ana nggak liat, mungkin diantara teman-teman ada yang liat kali.” Sambung bang Zenal.

Setelah ditanya semuanya geleng-geleng, termasuk aku. Tapi baru saja akan melanjutkan duduk tiba-tiba aku teringat pada anak kecil berbaju merah kumal, mengenakan celana jeans, lengkap dengan sepatu putih bolong-bolong pada setiap sisinya. Membawa sesuatu berwarna hitam, langkahnya keburu-buru gitu.

“Apa dibungkus kotak hitam bang?.”aku coba angkat bicara.

“Iya, antum lihat wan.” bang Deni menghampiriku.

Lalu kuceritakan semuanya pada bang Deni, lengkap dengan ciri-ciri anak tersebut.

“Yang benar Wan” bang Deni kaget dan agak kurang percaya.

“Iya bang, pas pergi buang air tadi, ana berpas-pasan dengan dia, ana hanya lihat sekilas dan nggak terlalu ambil pusing, habis kebelet sih!”

“Apa mungkin dia?.” Bang Deni ngomong sendiri.

“Emangnya ada apa bang?” tanyaku agak sedikit penasaran.

“Gini…, pas abang pergi beli air juga ketemu sama orang yang antum ceritakan, karna jalan yang kurang hati-hati lihat sana-sini, dan diapun jalannya kencang, akhirnya abang tabrakan.” bang Deni menjelaskan dengan singkat padat, mungkin di yang ngambil kali ya?.” Tanyanya padaku.

“Nggak tau bang!,” sambil mengangkat bahu,

“Bagaimana kalau kita lapor mabahis aja?.” Usulku pada bang Deni.

“Iya, ide yang bagus.” Sahut bang Zenal yang sejak tadi jadi pendengar setia kami.

Kebetulan kantor mabahis terletak tidak begitu jauh dari tempat kami melepas lelah setelah main bola, hanya berjalan beberapa menit saja kami telah sampai didaun pintu kantor jaga.

“Assalamu’alaikum.” Kami memberi salam pada Mabahis yang lagi baca koran.

“Wa’alaikum salam!.” jawab Mabahis tersebut ramah.

“Silahkan masuk!.” sambungnya.

“ada yang bisa saya bantu.”Sambil melipat koran yang belum selesai dibaca.

Akhirnya bang Deni menceritakan panjang lebar hal ihwal perihalnya. Mabahis tersebut angguk-angguk, tanda paham apa yang diceritakan bang Deni. Lalu nampak ia mengeluarkan sesuatu dari dalam laci;

“Apa ini benda yang kalian cari?.” Sambil mengangkat benda hitam itu dan menyodorkannya pada bang Deni.

Setelah diteliti, “Benar Pak, ini yang kami cari.” Bang Deni menyahut dengan hidung mekar dan senyum mengembang, ciri khasnya tatkala lagi senang.

“Terima kasih ya Pak!.” Sambil memasukkan kamera Digital kedalam kotaknya kembali.

“Kalau kami boleh tau, gimana ceritanya bapak sampai menemukan benda ini?,” bang Deni bertanya penasaran.

“Jadi begini!.” Pak Mabahis mulai menjelaskan;

“Pas saya lagi duduk-duduk baca koran, tiba-tiba ada anak kecil berpakain seperti yang kalian sebutkan datang menghampiri dan memberikan benda ini. Ini punya siapa Tanya saya pada dia, akhirnya ia menceritakan kalau benda ini dia temukan ditaman dekat mesjid. Waktu itu ia bertabrakan dengan orang Indonesia yang kurang liat-liat, dan setelah orang itu pergi ia melihat benda hitam ini tertinggal, pas mau memberikan pada orang tersebut tapi tak dilihatnya lagi, dan dia sudah berusaha mencari, tapi tidak ketemu, karena keburu-buru mau pulang ngantarin obat untuk ibunya yang lagi sakit, akhirnya ia berikan pada saya. Jadi gitu ceritanya.” Pak Mabahis menjelaskan sambil menggeser duduk.

Kami semua terharu mendengarnya. Mana kami telah berburuk sangka lagi!.

“Makanya lain kali hati-hati membawa barang. Untung anak yang nemuin jujur, coba kalau nggak?, mungkin tidak kembali lagi.”

Kami hanya angguk-angguk paham. Malu juga sih, dinasehatin pak Mabahis, bukan malu karna isi nasihatnya tapi malu karna kecerobahan.

“Lain kali kami akan hati-hati, terima kasih yang banyak ya pak dan tolong sampaikan juga sama anak yang telah menemukan, ungkapan terima kasih kami sedalam-dalamnya, semoga ibunya cepat sembuh.” Bang Deni yang ngomong lho ana ama bang zenal diam aja, jadi Supporter.

“Alhamdulillah akhirnya ketemu ya bang.” Kataku pada bang Deni, sambil berlalu meniggalkan kantor pak Mabahis yang baik hati semoga rizkinya terus bertambah dan jadi orang kaya baik hati. Amiin.

“Iya, alhamdulillah , ternyata kita bertanya pada orang yang tepat.” Jawab bang deni singkat.

Waktu trus berlalu begitu cepat tanpa terasa kami tlah setengah harian penuh di Ism’iliyah dan harus berpisah.

“Ayo cepat keretanya sebentar lagi mau beangkat.” Bang Rois kembali memberi aba-aba seperti akan berangkat tadi pagi.

Kali ini seratus dua puluh kilo meter perjam kukayuh kaki yang penuh energi.

“Eh, salah bukan kesana, kesini.” Teriakku pada teman yang ngambil arah berlawanan dengan arah kereta menuju Zagazig.” Merekapun membalikkan badan kearahku.

“Ayo lebih cepat lagi.” Teriak Tedi dari dalam Kereta yang mulai berjalan perlahan.

“Ah, hampir saja. Terlambat satu menit…? tinggal deh di Isma’iliyah.” Gumamku, sambil ngelap keringat yang bercucuran.

Selamat tinggal Isma’iliyah yang indah lain waktu kita bertemu lagi, kami tidak akan melupakan keelokanmu. Daa……………aa!.

Nama : Irwan Doni el-Abawy

Kuliah : al-Azhar, Fakultas Ushuluddin wa ad-Da’wah. Tingkat I, Zagazig.

Petualangan Di Mesir

Feature

PETUALANGAN I

Ngurus Minha di Baituzzakah I

"Astaughfirullah…!." Pekikku kaget.

"Sudah jam tujuh pagi. Aku belum shalat shubuh." Segera kuambil handuk. Berlari kekamar mandi. Cuci muka kemudian bewudhu.

"Benar-benar keterlaluan. Shalat shubuh jam segini. Apa kata dunia nanti. Santri Azhar sahalat shubuhnya kesiangan." Tak henti-hentinya aku ngomel diri sendiri. Yang terlalu larut dibuai mimpi-mimpi nggak karuan. Ini juga dampak dari begadang tadi malam. Aku tidur terlalu larut. Akibatnya shalat shubuh kesiangan. Dan memang beberapa hari ini aku sering begadang dan shalat shubuh kesiangan. Begadang kerjanya sih tidak ada yang terlalu bemanfa'at. Ngorbol, nonton dan kadang-kadang membaca. Tapi, lebih banyak mainnya.

"Huh aku benar-benar keterlaluan." Masuk kamar dan shalat.

"Ayo Wan." Teriak Asrun dari luar kamar.

"Sekarang sudah jam setengah delapan nih, nanti kita terlambat." Dia terus mengomentariku dari luar.

"Ya, ya… sebentar lagi juga sudah selesai." Sahutku dari dalam kamar. Hari ini kami akan pergi ngurus Minha di-Baituzzakah Kuwaity. Sebenarnya sih sudah tutup bagi Wafidin Indonesia. Beberapa hari yang lalu aku menghubungi. Tapi, meskipun dibilang sudah tutup, tak ada salahnya kalau dicoba. Kami lambat ngurus dikarenakan Natijah terlambat. Akibatnya pun kami terlambat ngurus minha. Yang memang dari minhah itu penopang hidup dinegri pasir ini. Dan insyaAllah bang Nurman akan membantu.

Jam delapan tiga puluh kami berangkat. Naik mobil putih ke Kairo, jurusan Abut. Diluar jadwal memang. Maklum jam orang Indonesia.

Kami ada enam orang. Dua orang tingkat dua naik tingkat tiga, dan empat orang tingkat satu naik tngkat dua. Abang-abang tingkat dua mereka Tahwil dari Minha azhar ke Minha Baituzzakah. Karena mereka Jayyid. Dan ingin lebih pula Minhanya. Kalau di al-Azhar hanya pas-pasan. Tidak bisa nabung. Habis tuk makan. Kalau di-Baituzzakah memang lumayan besar. Dan bisa ditabung. Tapi, syaratnya, nilai paling rendah harus Jayyid. Kalau kurang dari itu. Tidak bisa.

Lebih kurang setengah sebelas kami sudah nyampai di Kairo. Kami turun di-Muassasah. Lumayan ramai disana. Mobil banyak berlalu lalang. Orang-orang banyak berlintas datang. Cuma sayang, pinggirannya agak jorok, banyak sampah bercecer. Disana ada pedagang kami lima, tidak terlalu ramai. Ya, karena memang disana bukan pasar. Disetiap gang jalan disesakkan oleh mereka yang berlalu lalang dan berdagang.

"Makan yok, bang…?." Tawarku pada bang joe yang berada didepanku. Perutku lapar sekali. Dari tadi menahan lapar. Tadi pagi tidak sempat sarapan, keburu-buru.

"Antum lapar…?." Tanya beliau sambil menghentikan langkah.

"Iya nih bang, laper banget. Tadi belum sempat sarapan." Jawabku.

"Boleh, kita makan apa." Beliau balik bertanya.

"qibdah aja bang kebetulan ada dekat sini." Tawarku.

"ya, boleh deh." Jawab beliau singkat.

"Din antum mau makan nggak" Tanya bang joe pada bang Udin yang berada disampingku.

"Nggak, Syukran. Ana makan roti aja." Jawab bang Udin.

Azra'I dan Ashrun tampaknya juga tidak mau makan qibdah.

Azra'ikan paling nggak tahan makan qibdah, kecuali kalau tedesak. Namanya juga tedesak. Apa aja habis dilahap. Kalau Ashrun nggak tau deh.

"'Aiz qibdah tsalasah." Pinta bang Joe pada penjual. Ya, kami hanya betiga yang mau makan qibdah, Aku, Izul dan bang Joe. Yang memang sangat lapar, apalagi Izul. Dimobil tadi dia hampir muntah, karna perut kosong yang belum diisi. Untung dia bisa menahan, kalau tidak. Wah, kasihan banget tuh yang punya mobil.

"bang Tajuddin, Azra'I dan Ashun, mana bang." Tanyaku pada bang Joe yang sedang menggerutu, qibdah-nya sedikit banget.

"Nggak tau, tadi ada disana." Menunjuk entah kemana sambil terus mengunyah qibdah yang tinggal seperempat.

****

"Jadi disini toh antum semuanya. Makan nggak ngajak-ngajak lagi." komentar bang Joe kesal. Karena dari tadi dicariin nggak ketemu, taunya asyik makan disini.

"Aduh, afwan deh. Antum makan lahap banget sih. Kamijadi ikut laper." Jawab bang Udin santai. Sambil terus mengunyah roti yang dibawa dari rumah tadi. Azra'I dan Ashrun makan Kusyari.

"Disini ada Sawarma, ya. Duh, kalau tau. Enak makan Sawarma tadi nih." Aku sedikit kecewa.

"Berapa satu bang." Tanyaku pada bang Udin.

"Mungkin dua pound." jawab bang Udin sambil minum.

Kemudian kupesan satu Sawarma. Makan qibdah tadi belum berasa. Perut masih saja lapar.

*****

"kasihan orang itu ya bang. Barang-barangnya diambil Mabahis." Kataku pada bang Joe.

"Iya sih, tapi juga salah dia. 'kan disini tidak boleh jualan." Jawab bang joe terus melangkah.

"Tapikan seharusnya dipeingatkan dulu. Ini main ambil saja. Kasihan tuh dia." Aku tampak kurang senang tehadap pelakuan Mabahis itu.

"Ya nggak taulah, orang mesir biasanya gitu. Sudah diperingatkan. Malah langgar lagi." Bang Joe terus melaju. Takut telat.

Diloket, kami beli tiket enam buah. Kemudian melangkah lurus kebawah Mahaththah. Menunggu Metro Anfaq atau kereta api bawah tanah.

"Ternyata asyik banget lho, naik kereta api bawah tanah. Diluar long-lorong gelap. Suasana hening hanya gema Metro yang bising. Nggak ada yang rebut kayak naik qithor biasa. Apalagi suara para penjual yang berteriak-teriak. Bikin sumpek.

Tapi saying, aku bediri. Tempat duduk semuanya penuh. Nggak ada yang kosong. Didalam hanya kami saja orang asing, selebihnya orang Mesir. Yang badannya gedek minta ampun. Dua kali lipat badanku.

Lamaku berdiri, di Mahaththah Sadat baru dapat tempat duduk.

"Ah lega rasanya. Pegal juga bediri. Teman-temanku semuanya sudah dari tadi duduk. Hanya aku saja yang belum mujur." Lebih kurang tiga puluh menit kami naik Metro. Akhinya sampai juga ditujuan, boohus.

Kami turun. Melangkah keluar dari metro. Meninggalkan Mahththah Boohus. Naik escalator. Jadi tebayang waktu di Indonesia pergi ke Ramayana dan matahari nih…!.

Seberkas cahaya mencuat, menyambaut kedatangan kami. Didalam Mahaththah emang terang sih. Tapi, terangnya beda dengan terang cahaya yang menyambut kami.

Kami berjalan mencari mobil ke Sari' Syurya.

"Sari' Syurya." Tanya bang johar pada orang mesir, yang lagi nuggu-nunggu penumang tampaknya.

"Na'am." Katanya sambil memandu kami menuju mobil.

Tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit, kami sampai di Sari' Syurya. Berhenti disebuah simpang masuk ke Baituzzakah.

Disana ( disimpang ) telah menunggu bang Nurman, seniorku. Yang akan membantu kami mengurus Minha. Karena beliau sangat dekat dengan ustadz Hasan pegawi Baituzzakah. Mungkin karena prestasi beliau, bisa sampai dekat. Beliau adalah orang yang rajin dan pintar. Kalau tidak mana mungkin beliau Imtiyaz.

"Assalamu'alaikum." Sapa kami bersama pada beliau. Yang tampaknya sudah agak lama menunggu.

"Wa'alaikum salam warahmatullahiwabarakatuh." Jawab beliau ramah.

"Gimana kabarnya antum semua." Tanya beliau kembali.

"Alhamdulillah sehat bang." Jawab kami.

"Ayo,nanti kita terlambat." Ajak beliau kepada kami.

Kami terus malaju lurus, mengayuh langkah. Belok kanan. Dan sampai di tujuan, Baitzzakah.

"Ini Baituzzakah bang." Tanyaku sedikit tak percaya. Bayanganku Baituzzakah itu besar dan luas . Karna banyak mahasiswa yang diberi Minha olehnya. Membuatku kembali terbayang waktu memperpanjang Iqamah. Bayanganku juga sama tempanya luas dan besar. Tapi ternyata, eh, tepatnya kecil sekali. malah aku kebasahan nunggu diluar. Nggak salah aku namai Mesir ini negri misteri. Bayangan kita selalu meleset.

"Iya, ini namanya Baituzzakah. Tempatnya para mahasiswa ngurus Minha. Dan kalau ngambil Minha nggak disini, dibank Faisal. Ini hanya tempat Registrasi aja." Bang Nurman menjelaskan kepadaku yang lagi kebingingan. Maklum aku juga baru kali ini kesini.

"o," jawabku agak hambar.

Bang Nurman masuk kedalam ruangan. Sementara kami menunggu diluar. Tidak tau apa yang mereka bicarakan. Diluar tampak olehku Haris dengan baju putih, lagi asyik ngobrol dengan ibu-ibu.

"Mau kemana bang." Tanyaku pada bang Joe dan bang Udin yang pergi meninggalkan kami.

"Mau beli mav didepan." Sambil terus berlalu pergi.

"O." jawabku pelan.

Lama juga kami menunggu. Kurang lebih setengah jam. Asrun, izul dan Azra'i nggak tau lagi perhatian apa. Matanya gerayangan kayak musang mencari mangsa.

"Ayo, ayo cepat. Di isi formulirnya." Bang Nurman keluar membawa tiga formulir. Kami bertiga segera berlari menghampiri.

"Bisa bang." Tanyaku pada bang Nurman

"Alhamdulillah." Jawab beliau. Menyerahkan satu-satu formulir kepada kami

"Ayo didalam aja ngisinya." Ajak beliau.

"Syarat-syaratnya lengkapkan semuakan." Tanya beliau.

"Alhamdulillah udah bang." Jawab Azra'i. Aku hanya diam, khusuk menulis lampiran perintah yang diminta, Ashrun juga begitu.

"Assalamu'alaikum." Sapa bang Joe dan bang Udin yang baru datang.

"Wa'alikum salam." jawab kami.

"Ayo, ayo cepat." Bang Nurman memberi aba-aba kepada yang baru datang. Hanya beberapa menit kami menjawab.

"Hmm, akhirnya selesai juga." Gumamku. Sudah kuperiksa kembali semua. Tidak ada yang tertinggal. Kuperhatikan semuanya pun sudah selesai.

Bang Nurman memberi aba-aba. Agar formulir yang barusan di isi dimasukkan kedalam kotak surat ddiuar.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Sebenarnya tipis harapanku untuk bisa mendaftar. Karna udah tutup. Tapi Alhamdulillah berkat berdo'a dan bantuan bang Nurman, bisa juga.

"Gimana ceritanya bang, kok bisa dapatkan formulir, padahlkan sudah tutup, dan nggak bisa lagi." Tanyaku penasaran pada bang Nurman.

"Ya, awalnya tadi juga tidak bisa. Tapi Abang lobi-lobi terus. Akhirnya ia ngerti juga. 'yang salah ini bukan kaminya pak. Tapi, natijahnya yang lambat turun. Kami juga ingin cepat. Tapi mau gimana. natijah belum turun-turun. Ya, terppaksa nunggu. Dan baru beberapa hari kemarin turun. Kalau nggak diberi kesempatan,tentu kami tidak dapat Minhah dong pak. Panjang lebar abang menjelaskan. Akhirnya ia baru mau memahami. Dan memberikan formulir ini. Tapi jangan dibilang sama anak Kairo ya. Karna ini khusus anak Zagazig." Panjang lebar bang nurman menjelaskan. Barulah rasa penasaranku sirna.

"Astaughfirullahal'azhim." Aku berteriak kaget.

"Ada apa." Tanya bang Nurman dengan kaget juga.

"Ada yang lupa, bang." Rautku kusut dan tegang.

"Apanya yang lupa." Tanya beliau penasaran

"Waktu ana ngisi formulir tadi. Tasdiq asli tidak ana berikan, yang ana berikan fotokopi keduanya." Aku khawatir dan cemas. Kalau-kalau nanti jadi masalah. Dan gagal mendapakan Minhah Baituzzakah.

"Yang benar," Tanya bang johar yang ada dekatku. Beliau juga sedikit tegang.

"O, InsyaAllah nggak apa-apa. Tapi, waktu Muqobalah nanti jangan lupa dibawa. Dan kalau ditanya yang asli, berikan." Bang nurman meredakan keteganganku.

"Emang bisa bang" aku masih belum terlalu yakin.

"InsyaAllah." Jawab beliau mantap.

Waktu terus merayap. Matahari tlah bergeser dari pusat langit. Namun walaupun demikian, panas tetap menyengat. Kami melangkah pulang dengan Metro Anfak. Berhenti di-Mubarak. bang Nurman tidak sama turun dengan kami. Beliau ada acara di-Mansurah. Kami turun lebih awal.

Kami terus jalan, Keramsis. naik qitar ke-Zagazig. Dan selesailah petualanganku ngurus Minha.

Zagazig, 14 Ramadhan 1428

27 September 2007

03.38 WZ, perempat malam yang melelahkan.

Udo Iwan

sesal...

SESAL

Kusendiri berteman sepi,

Pikiran melayang bergentayang.

Bisikan-bisikan halus menjelang,

Kenikmatan Dunia berlintas datang.

Luka lama berdarah lagi,

Tanpa bisa kuobati.

Cucuran darah mengalir indah,

Menjerit hati meronta-ronta.

Iman bertekuk tak berdaya,

Linang air mata sia-sia,

Nafsu menggelora,

Maksiat menjelma.

Nafsu berlalu sudah,

Ribu sesal kini tiba,

Namun tiada guna.

Semuanya terlambat,

Semuanya telah terjadi.

Jangan sampai luka itu berdarah lagi,

Karna sesal tiada arti.

Ketika Nafsu Tertawa.

Zagazig, 7/9/2007

Jum'at, 22.11 WZ

Udo Iwan

Sketsa Kampungku

Sketsa kampungku

Kampung nan indah dan permai,

Kampuang nan asri berseri.

Dikelilingi bukit barisan,

Rindang pepohonan.

Sungai-sungai mengalir indah,

Dikaki bukit kehidupan.

Bersih, bening tanpa terjamah.

Ikan-ikan berenang tenang,

Bercanda bahagia.

Anak-anak kecil berlari-lari,

Berenang mencari ikan,

dibawah bebatuan.

Kebun-kebun karet berdiri rapi,

Menghias kampuang tambah dicintai.

Kelapa-kelapa sawit berjejer,

Menghidupkan penduduk negri.

Udara sejuk, segar tanpa polusi,

Nikmat bak ditaman Safari.

Penduduk ramah,

Walau bahasa tak enak ditelinga.

Tapi, hati lembut bagai sutera.

Itulah kampungku...

Itulah negriku...

Tempatku membalut rindu,

Tempatku mengadu.

Tempatku dilahirkan,

Tempatku dibesarkan,

Dengan cinta dan kasih sayang,

Dengan tetes air mata dan darah.

Sebuah catatan untukku jaga.

Zagzig,5 Syawal 1428 H / 17 Oktober 2007

Rabu, 18.15 WZ

Udo Iwan

Rabu, 13 Februari 2008

puisiku

Beribu-ribu Akankah

Akankah aku sama dengan yang dulu?.

Akankah kuhabiskan hari ini dengan termangu bisu?

Akankah kebodohan terus menjadi Guru?.

Akankah malas terus jadi benalu?.

Akankah aku terus jadi bulanan nafsu?.

Akankah...?

Akankah hari ini berlalu tanpa makna?.

Tanpa ada kata yang mengalir setetespun?.

Akankah cita-cita nan dulu mengangkasa,

hancur diterjang Catrina?.

Akankah tekad nan dulu kokoh, roboh,

jadi puing belaka?.

Akankah mutiara melimpah, jadi pajangan belaka, tanpa dijamah?.

Akankah aku terus berselimut alam mimpi?.

Akankah...?

Akankah tetesan keringat Ayah dan Bunda, kering dengan sia?.

Akankah nesehat Ayah-Bunda lenyap ditelan masa?.

Akankah...?

Akankah hidup ini habis didunia Maya?.

Akankah kesempatan di-Kinanah jadi musnah?.

Akankah cahaya nan dulu benderang, sirna?.

Akankah gelora nan dulu menyala-nyala, jadi legam padam?.

Akankah... akankah...?

Masih beribu-ribu akankah yang harus kurenungankan...

Ketika cita-cita membumbung keangkasa diterjang badai

Zagazig, 28 juli 2007

Sabtu bisu, O7.30 WZ.

Udo Iwan

puisiku

Ungkapan Hati

Suatu kebahagiaan yang tak bisa kugambarkan,

Suatu kebahagiaan yang tak bisa kulukiskan.

Tak terangkai dengan kata,

Tak terukir dengan pena,

Hanya bisa kurasa.

Dulu aku hanya bermimpi,

Untuk bisa belajar dinegri para nabi ini,

Sekarang mimpi itu tlah menjadi sebuah kenyataan,

Aku tlah berlabuh disini (Mesir).

Berlabuhnya aku di negeri

Yang serba Antri ini,

Tidak begitu saja mudah!

Amat besar perjuangan yang dilakukan,

Amat besar pengorbanan yang dikorbankan.

Kalau bukan karna kegigihan dan keyakinan.

Kalau bukan karna usaha da doa,

Mungkin, mimpi itu hanya tinggal mimpi,

Mimpi yang takkan pernah terijabahi.

"Rasa-rasa takkan sanggup ayah dan ibu menyekolahkanmu lagi nak, melihat kehidupan kita yang pas-pasan ini!."

Itulah kata yang pernah beliau ucapkan,

Itulah kata yang pernah beliau layangkan,

Ketika kuutarakan keinginanku ‘tuk kuliah.

Beliau berharap

Selepas sekolah

Aku berhenti sekolah

dan membantu bekerja.

Tapi, aku tak ingin berhenti,

Aku ingin kuliah,

Aku ingin jadi orang,

Orang yang berguna.

Karna keinginanku yang kuat,

Karna tekadku yang bulat.

Beliau tak lantas berputus asa,

Beliau tak lantas menyerah kalah.

Dengan membaca basmallah,

Beliau memulai langkah,

Dengan segala usaha yang diridhoi Allah.

Akhirnya, aku bisa dilabuhkan di Mesir ini,

Di negri yang orang bilang ‘gudang segala gudang’

Dengan cukup perbekalan.

Perjuangan yang begitu besar.

Beliau tak pernah mengeluh aduh,

Tidak ada kata menyerah,

Tak ada kata putus asa,

Yang ada hanya,

bagaimana aku bisa kuliah,

Oh ayah-ibu...

Begitu besar perjuanganmu.

Tak kenal lelah ,

Tak kenal payah.

Aku takkan bisa membalas semua jasa-jasa.

Yang kubisa hanya berdo'a,

Agar jerih payahmu dibalas Allah,

Agar engkau selalu dilimpahkan rahmat-Nya.

Terima kasih ayah-ibu...,

Berkat perjuangan dan kegigihanmu

Dan berkat pertolongan Allah tentunya.

Aku bisa menuntut ilmu,

Aku bisa kuliah

di Negri yang kucita,

di Negri yang kudamba

Semoga Allah membalas semua jasa-jasamu.

Amiin...!

Ungkapan hatiku yang haru pada perjuangan Ayah dan Ibu, untukku menuntut ilmu di Mesir, negri yang kudamba.

Zagazig,14 Juli 2007

Irwan Doni Darlis el-Abawy/Udo Iwan